Ada masa di mana kita bisa duduk berdua tanpa perlu menjadi siapa-siapa.
Tanpa perlu sibuk membela diri.
Tanpa harus takut salah bicara atau takut dihakimi oleh satu sama lain.
Aku rindu masa itu.
Rindu ketika yang ada hanya aku dan kamu, bukan dua orang yang sibuk menyembunyikan luka di balik topeng masing-masing.
Kadang aku bingung dengan diam-mu yang panjang.
Seolah ada banyak hal yang ingin kau katakan, tetapi kau memilih menelannya sendiri.
Padahal aku tahu, jauh di dalam hatimu, kau lelah berpura-pura kuat.
Dan aku juga tahu, selama ini kau bisa menjadi dirimu sendiri saat bersamaku.
Lalu kenapa sekarang kau memilih menjauh dalam diam?
Bukankah selama ini aku selalu mencoba merayakanmu?
Meski mungkin tidak dengan sorak paling meriah, aku selalu berusaha hadir untuk hal-hal kecil tentangmu.
Aku mengingat bagian-bagian dirimu yang bahkan terkadang kau lupakan sendiri.
Aku menjaga cerita-ceritamu, mendengarkan lelahmu, dan mencoba memahami sisi dirimu yang tak semua orang tahu.
Namun tetap saja, ada jarak yang perlahan tumbuh di antara kita.
Aku sering bertanya-tanya,
hal kecil apa yang terlewat dariku hingga membuatmu memilih menutup diri?
Apa aku kurang melihatmu?
Atau mungkin dunia membuatmu terlalu lelah untuk sekadar menjadi diri sendiri?
Padahal bukankah kita pernah sepakat bahwa bersama satu sama lain, kita tidak perlu memakai topeng?
Aku hanya ingin kita kembali menjadi “kita”.
Tanpa tuntutan menjadi sempurna.
Tanpa harus menjadi orang lain demi diterima.
Karena menurutku, hal paling menenangkan dari sebuah hubungan adalah ketika dua orang bisa pulang pada dirinya masing-masing tanpa rasa takut.
Jadi, bisakah kita berhenti sejenak?
Melepas semua topeng itu perlahan.
Dan kembali duduk bersama seperti dulu—
sebagai dua manusia yang saling mengenal, saling bertumbuh, dan saling menerima.
Sebab aku masih percaya,
di antara semua perubahan yang terjadi,
masih ada “kita” yang belum benar-benar hilang.